Di panggung industri burung berkicau (kicau mania) Indonesia, burung Cililin (Platylophus galericulatus) memegang predikat sebagai “raja masteran” yang paling dicari. Permintaan pasar terhadap Cililin khususnya varian Cokelat sangat tinggi karena suara tembakannya yang melengking, tajam, dan bertempo amat rapat menjadi amunisi wajib untuk mendongkrak performa Murai Batu, Kacer, hingga Cucak Hijau.
Sayangnya, hingga saat ini pasokan Cililin di pasar burung masih sangat mendominasi dari hasil tangkapan alam (muda hutan). Kelangkaan pasokan akibat ancaman deforestasi serta tingginya tingkat sensitivitas burung ini membuat penangkaran (breeder) Cililin menjadi peluang bisnis yang amat menjanjikan sekaligus sangat menantang.

Menangkarkan Cililin bukan hal yang mustahil, namun membutuhkan pendekatan biologis yang matang, kesabaran, serta manajemen lingkungan yang mendekati habitat alaminya. Berikut panduan teknis dan realistis cara menangkarkan burung Cililin dari awal hingga sukses menetas.
1. Menyiapkan Kandang Penangkaran yang Ideal
Habitat asli Cililin adalah tajuk bawah hutan hujan tropis yang lebat, lembap, sejuk, dan terlindung dari sinar matahari langsung. Kegagalan ternak Cililin umumnya berawal dari desain kandang yang terlalu panas dan bising.
[ STRUKTUR KANDANG TERNAK CILILIN ]
│
┌────────────────────────────┼────────────────────────────┐
▼ ▼ ▼
[ UKURAN IDEAL ] [ LINGKUNGAN / IKILIM ] [ ORNAMEN / SARANG ]
- P: 2 m, L: 1,5 m, T: 2,5 m - Sejuk & Rindang (24–28°C)- Pohon hidup / Rimbun
- Kawat halus lapis ganda - Sirkulasi udara lancar - Gemericik air alami
- Atas tertutup sebagian - Jauh dari kebisingan - Box kayu & serat cemara
- Ukuran Kandang Minimal: Buat kandang aviary dengan ukuran minimal Panjang 2 meter, Lebar 1,5 meter, dan Tinggi 2,5 meter. Semakin luas kandang, semakin menekan tingkat stres burung.
- Suhu dan Vegetasi Internal: Tanam pohon berdaun lebat di dalam kandang (seperti pohon beringin kecil, keji beling, atau pakis) untuk menciptakan mikroiklim sejuk bertemperatur 24–28°C.
- Instalasi Pancuran Air: Sediakan kolam kecil dengan instalasi air mengalir atau pancuran. Suara gemericik air terbukti secara ilmiah mampu merangsang naluri birahi dan memberikan efek relaksasi pada sistem saraf Cililin.
- Keamanan dan Ketenangan (Quiet Zone): Posisikan kandang jauh dari area lalu lalang manusia, asap dapur, serta jangkauan predator (kucing, tikus, atau ular).
2. Seleksi Indukan dan Pemilihan Sexing
Cililin adalah burung monomorfik (penampilan fisik jantan dan betina sangat mirip). Kesalahan menentukan jenis kelamin akan membuat proses penangkaran gagal total.
A. Ciri-Ciri Indukan Jantan Siap Ternak
- Postur dan Kepala: Postur tubuh lebih panjang dan tegap. Warna bulu cenderung lebih pekat/gelap berkilau.
- Bentuk Jambul: Jambul kaku di atas kepala lebih panjang dan berdiri lebih tegak saat merespon suara.
- Karakter Vokal: Memiliki volume suara sangat tebal, rapat, dan sering memuntahkan tembakan berdurasi panjang.
- Usia Minimal: Ideal berusia minimal 1,5 hingga 2 tahun (tulang pubik/supit urang sudah keras dan terpisah).
B. Ciri-Ciri Indukan Betina Siap Ternak
- Postur dan Kelakuan: Postur tubuh sedikit lebih membulat/pendek. Jarang memuntahkan suara tembakan panjang (lebih dominan bersuara ngetik atau tembakan pendek).
- Bentuk Supit Urang: Jarak antara kedua tulang pubik lebih lebar dan terasa agak lunak saat diraba pada masa subur.
- Usia Minimal: Ideal berusia 1,2 hingga 1,5 tahun.
3. Tahap Perjodohan (Pairing Management)
Menjodohkan Cililin tidak bisa langsung disatukan dalam satu kandang karena sifat territorial mereka yang sangat kuat. Cililin jantan dapat menyerang betina hingga tewas jika belum saling menerima.
- Metode Tempel Sangkar (1–2 Minggu): Masukkan indukan betina ke dalam kandang ternak besar, sementara indukan jantan dimasukkan ke dalam sangkar harian terpisah yang digantung di dalam/di samping kandang ternak.
- Pengamatan Respon: Amati interaksi keduanya. Jika jantan mulai berkicau merayu sambil membusungkan dada dan betina merespon dengan mengepakkan sayap (menggetarkan badan) sambil mendekat, itu pertanda awal jodoh.
- Pelepasan Terkontrol: Lepaskan jantan ke dalam kandang ternak pada sore hari. Pantau secara ketat selama 2–3 jam pertama. Jika tidak ada perkelahian fisik yang brutal, indukan dapat disatukan secara permanen.
4. Penyediaan Sarang dan Nutrisi Pemicu Birahi
A. Material Sarang (Nesting Material)
Di alam liar, Cililin membuat sarang berbentuk cawan cembung yang agak kasar.
- Sediakan box kayu terbuka berukuran $20 \times 20 \text{ cm}$ atau keranjang rotan yang diletakkan di sudut atas kandang yang paling rimbun dan terlindung.
- Sebar material sarang di dasar kandang berupa serat cemara kering, daun pinus, sabut kelapa yang sudah dihaluskan, dan ranting-ranting kecil halus. Indukan akan mengangkut sendiri bahan sarang tersebut.
B. Settingan Pakan Pemicu Birahi (High-Protein Diet)
Selama proses perjodohan hingga bertelur, tingkatkan asupan protein hidup untuk memicu hormon reproduksi:
- Jangkrik Alam: Sediakan 20–30 ekor jangkrik/hari yang sudah dikenyangkan (gut loading) dengan sayuran kaya nutrisi.
- Kroto Segar: Sediakan 2 sendok makan kroto bersih setiap pagi.
- Ulat Cacing / Ulat Hongkong: Berikan cacing tanah segar atau ulat hongkong secukupnya untuk menambah kehangatan dan stamina indukan.
Tabel Parameter Kunci Penangkaran Burung Cililin
| Tahapan Ternak | Durasi Rata-Rata | Indikator Keberhasilan | Catatan Penting |
| Perjodohan | 7–14 Hari | Jantan & betina bertengger berdekatan tanpa menyerang | Jangan satukan jika masih saling patuk |
| Penyusunan Sarang | 3–7 Hari | Indukan mengangkut serat cemara ke box sarang | Jaga ketenangan lingkungan sekitar |
| Masa Pengeraman | 14–16 Hari | Betina & jantan bergantian mengerami telur | Dilarang sering melihat isi sarang |
| Masa Melintaskan Anakan | 0–14 Hari | Indukan rajin menyuapi asupan EF segar ke anakan | Stok kroto & jangkrik muda wajib melimpah |
5. Masa Pengeraman dan Penanganan Anakan (Piyik)
- Jumlah Telur: Betina umumnya menelurkan 2 hingga 3 butir telur berwarna krem berbintik cokelat.
- Pengeraman: Proses pengeraman berlangsung selama 14–16 hari. Selama fase ini, kurangi interaksi manusia ke dalam kandang dan hentikan pemberian ulat hongkong yang berlebihan agar emosi indukan tidak meluap yang bisa menyebabkan telur dibuang.
- Lolos Tetas (Pascametas): Saat anakan menetas, pastikan ketersediaan kroto segar dan jangkrik muda bertekstur lembut (dipotong kepalanya) selalu melimpah di wadah pakan. Indukan akan mengolah makanan ini untuk disuapkan kepada anakannya.
- Pemanenan (Hand Rearing): Jika ingin dilatih menjadi burung yang sangat jinak (tame), anakan dapat dipanen pada usia 10–12 hari untuk dilintaskan secara manual menggunakan adonan pakan khusus berprotein tinggi.
Kesimpulan
Menangkarkan burung Cililin memang menuntut investasi waktu, ketelitian, serta manajemen lingkungan kandang yang cermat. Namun, dengan menyediakan kandang yang sejuk, nutrisi protein tinggi yang konsisten, serta menjaga ketenangan selama proses pengeraman, penangkaran Cililin dapat menjadi usaha yang highly profitable sekaligus menjadi langkah nyata dalam menjaga kelestarian sang “raja masteran” dari ancaman kepunahan.


